Hulu Sungai Utara, exposee.id- Rawa bukan sekadar bentangan lahan basah; di tangan masyarakat Hulu Sungai Utara
(HSU), rawa adalah denyut nadi kehidupan, kekayaan budaya, dan warisan leluhur yang terus menyala. Semangat pelestarian inilah yang menjadi fokus utama dalam seminar bertajuk “Potensi Budaya, Basuluh Banua,” yang sukses digelar di Aula Idham Chalid, Amuntai, pada hari Sabtu (8/11/2025).
Acara yang diinisiasi oleh Balai Kelestarian Kebudayaan Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten HSU dan berbagai dinas terkait, bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya merawat rawa dan melestarikan budaya Banua agar tidak tergerus oleh zaman.
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber berkompeten di tingkat nasional, yaitu Anton Hendrawan, seorang documentary filmmaker dan konseptor program Si Bolang Trans7; M. Panji Kesumah, seorang ahli pengembangan budaya; dan Ignaseus Kendal dari Gerakan Konservasi Alam.
Rawa: Identitas yang Terlupakan Kini Kembali Mengemuka
Dalam presentasinya, Anton Hendrawan menekankan bahwa kawasan rawa HSU menyimpan potensi ekologis dan budaya yang sangat besar, bahkan berpotensi menjadi ikon nasional jika dikembangkan dengan strategi yang tepat.
“Rawa bukan hanya sekadar genangan air, melainkan sumber kehidupan dan identitas masyarakat Banua. Dengan pengemasan yang baik melalui media, film dokumenter, dan promosi digital yang berkelanjutan, dunia akan mengakui rawa sebagai bagian tak terpisahkan dari peradaban HSU,” tegas Anton.
Salah satu warisan budaya yang menarik perhatian adalah tradisi Kerbau Rawa atau Hadangan Kalang, yang masih lestari di Danau Panggang. Tradisi ini mencerminkan harmoni antara manusia dan alam, di mana kerbau bukan hanya sekadar hewan ternak, tetapi juga bagian integral dari sistem sosial dan ekonomi masyarakat.
Potensi Ekonomi dan Ekowisata yang Menjanjikan Harapan Baru
Selain aspek budaya, seminar ini juga menyoroti peluang ekonomi dari pengelolaan sumber daya rawa. HSU dikenal memiliki lahan subur untuk padi, kacang tanah, dan kangkung, serta menjadi habitat bagi kerbau rawa dan itik alabio—dua komoditas unggulan khas Banua yang telah terbukti adaptif dan produktif.
Integrasi antara pertanian, peternakan, dan perikanan rawa diyakini mampu menciptakan model usaha tani terpadu yang tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan.
Menurut Ignaseus Kendal dan M. Panji Kesumah, kekayaan alam dan budaya rawa juga menyimpan potensi besar untuk pengembangan ekowisata berbasis konservasi.
“Keunikan bentang alam, tradisi masyarakat, serta keanekaragaman flora dan fauna rawa adalah daya tarik wisata yang sangat berharga, asalkan dikelola dengan prinsip-prinsip pelestarian yang berkelanjutan,” kata Ignaseus.
Candi Agung: Menghidupkan Kembali Jejak Peradaban Masa Lalu
Dalam forum tersebut, para narasumber sepakat bahwa Situs Candi Agung Amuntai seharusnya menjadi pusat penelitian sejarah dan budaya Banua. Candi ini menyimpan jejak peradaban masa lalu Kalimantan Selatan yang perlu terus digali dan dilestarikan agar tidak hilang ditelan arus modernisasi.
Merawat Cahaya Banua untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Seminar Basuluh Banua bukan hanya sekadar forum diskusi, tetapi juga merupakan seruan moral untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat Banua bahwa rawa, budaya, dan sejarah adalah sumber cahaya yang akan membimbing masa depan HSU.
“Budaya adalah cahaya Banua. Jika kita menjaganya dengan baik, ia akan terus menerangi jalan pembangunan kita,” pungkas Anton Hendrawan dengan penuh harapan.

















Comment