Ahmedabad, India, Exposee.id – Duka menyelimuti India dan dunia penerbangan setelah Air India Flight 171, sebuah Boeing 787-8 Dreamliner, meledak tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Sardar Vallabhbhai Patel pada Kamis, 12 Juni 2025 siang waktu setempat.
Kecelakaan fatal ini menewaskan 265 penumpang dan awak, menjadikannya insiden fatal pertama bagi jenis pesawat canggih Dreamliner.
Dengan hanya satu penumpang yang berhasil selamat, fokus kini beralih pada investigasi kolaboratif antara India, Inggris, dan Amerika Serikat untuk mengungkap penyebab tragedi yang mengerikan ini.
Kapten Sumeet Sabharwal dan co-pilot Clive Kundar, dua pilot berpengalaman dengan ribuan jam terbang, mengendalikan pesawat nahas tersebut.
Pada pukul 13:39, Air India 171 lepas landas dengan bahan bakar penuh, namun hanya beberapa menit kemudian, kokpit mengirimkan sinyal “mayday” yang putus tanpa respons lanjutan.
Rekaman video menunjukkan pesawat terbang sangat rendah di atas permukiman padat, kesulitan mencapai ketinggian. Data terakhir yang terekam menunjukkan pesawat hanya mencapai 190 meter sebelum terus menurun dan meledak.
“Tak ada waktu baginya [pilot] untuk bereaksi jika kedua mesin tak berfungsi,” ujar seorang pilot kepada BBC, menggambarkan situasi genting yang mungkin terjadi.
Ketiadaan daya dorong yang memadai setelah lepas landas menjadi petunjuk awal, mengarahkan para pakar aviasi pada beberapa teori utama.
Teori 1: Kegagalan Dua Mesin Sekaligus – Sebuah Insiden Langka
Salah satu spekulasi paling menonjol adalah kegagalan simultan kedua mesin pesawat. Kejadian ini sangat jarang terjadi, namun bukan tidak mungkin. Kasus paling terkenal adalah “Keajaiban di Hudson” pada 2009, di mana sebuah Airbus A320 berhasil mendarat darurat setelah kehilangan kedua mesinnya akibat tabrakan burung.
Seorang pilot senior mengemukakan kepada BBC bahwa kegagalan ganda mesin bisa disebabkan oleh kontaminasi bahan bakar atau penyumbatan pada sistem pengukuran bahan bakar yang presisi.
Jika aliran bahan bakar terhambat, mesin bisa kekurangan pasokan dan mati. Mohan Ranganathan, seorang pakar aviasi, juga menekankan betapa jarangnya insiden kegagalan dua mesin sekaligus.
GE Aerospace, produsen mesin Dreamliner, telah mengirimkan timnya ke India untuk mendukung proses investigasi, menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mencari akar masalah.
Teori 2: Serangan Burung (Bird Strike) – Ancaman yang Sering Terabaikan
Potensi lain yang sedang diselidiki adalah serangan burung atau bird strike.
Para pakar dan pilot yang akrab dengan Bandara Ahmedabad mengonfirmasi bahwa area sekitar bandara memang memiliki populasi burung yang tinggi.
“Burung selalu ada di sekitar [bandara],” kata Ranganathan, mengutip pengakuan setidaknya tiga pilot yang sering terbang dari dan menuju Ahmedabad.
Data dari Kementerian Penerbangan Sipil India pada Desember 2023 menunjukkan bahwa negara bagian Gujarat, yang mencakup Ahmedabad, melaporkan 462 insiden serangan burung dalam lima tahun terakhir, dengan mayoritas terjadi di Bandara Ahmedabad.
Laporan Times of India bahkan mencatat peningkatan 35% serangan burung di Ahmedabad pada periode 2022-2023. Jika seekor atau sekelompok burung tersedot ke dalam mesin, terutama pada ketinggian rendah setelah lepas landas, hal itu dapat menyebabkan kerusakan parah dan hilangnya daya dorong, seperti yang terjadi pada kecelakaan Jeju Air tahun lalu yang menewaskan 179 orang.
Teori Tambahan: Kesalahan Konfigurasi Penutup Sayap (Flaps)
Selain kedua teori utama di atas, beberapa pakar juga tidak mengesampingkan kemungkinan kesalahan pada penutup sayap (flaps) pesawat.
Penutup sayap sangat vital saat lepas landas, membantu pesawat mendapatkan daya angkat maksimal pada kecepatan yang lebih rendah. Jika penutup sayap tidak memanjang dengan benar, pesawat akan kesulitan mencapai ketinggian meskipun mesin beroperasi penuh.
Pada saat insiden, suhu di Ahmedabad hampir 40 derajat Celcius. Udara panas berarti udara lebih tipis, yang menuntut pengaturan pesawat yang lebih tinggi dan daya dorong mesin yang lebih besar.
Bahkan kesalahan konfigurasi kecil dalam kondisi seperti itu dapat berakibat fatal. Rekaman CCTV memang menunjukkan pesawat kesulitan naik.
Namun, pilot lain meragukan teori ini, mengingat sistem peringatan konfigurasi lepas landas Boeing 787-8 seharusnya memperingatkan awak pesawat tentang konfigurasi yang tidak aman.
Jika terbukti ada kesalahan pada flaps, Marco Chan, seorang mantan pilot, menggarisbawahi bahwa ini dapat mengarah pada potensi kesalahan manusia, mengingat pengaturan flaps adalah prosedur manual yang diverifikasi dengan daftar periksa.
Investigasi mendalam yang melibatkan analisis kotak hitam (black box) akan menjadi kunci untuk menguraikan misteri ini.
Informasi dari perekam suara kokpit (CVR) dan perekam data penerbangan (FDR) akan memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi pesawat, tindakan pilot, dan lingkungan sekitar sesaat sebelum tragedi, akhirnya mengungkap apakah dua mesin mati, serangan burung, atau faktor lain yang menjadi penyebab utama di balik jatuhnya Air India Flight 171.

















Comment