Exposee.id — Sejumlah kawasan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh diguyur hujan ekstrem yang memicu banjir dan longsor dalam beberapa hari terakhir. Situasi ini ikut menjadi perhatian PT United Tractors Tbk (UNTR), perusahaan di bawah Grup Astra yang memiliki anak usaha tambang emas di wilayah terdampak.
Menjawab permintaan klarifikasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen UNTR menegaskan bahwa perusahaan induk tidak memiliki fasilitas produksi yang langsung berada di lokasi bencana. Namun, lain halnya dengan PT Agincourt Resources (PTAR), operator Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan. Fasilitas tambang tersebut memang berada di area terdampak cuaca ekstrem, meski tidak mengalami kerusakan material.
Sebagai langkah antisipasi, PTAR menghentikan sementara aktivitas operasional sejak 6 Desember 2025. Keputusan ini diambil agar perusahaan bisa memusatkan tenaga dan sumber daya untuk membantu proses penanganan bencana dan pemulihan masyarakat sekitar tambang.
“Operasional akan kembali berjalan penuh ketika kondisi di lapangan sudah benar-benar aman dan setelah berkoordinasi dengan pihak terkait,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi.
UNTR juga memastikan bahwa seluruh karyawan dalam kondisi aman, dan tidak ada aset vital perusahaan yang rusak akibat bencana. Dari sisi rantai pasok maupun logistik, perusahaan menegaskan tidak ada gangguan berarti, termasuk kebutuhan relokasi proses produksi.
Dampak keuangan maupun aspek hukum juga disebut nihil. Perusahaan menegaskan bahwa bencana tersebut tidak memberikan pengaruh material pada laporan keuangannya.
Di sisi lain, PTAR kini fokus menjalankan misi kemanusiaan. Mereka mendirikan posko penanggulangan bencana lengkap dengan layanan kesehatan dan dapur umum bagi warga yang terdampak di beberapa desa, termasuk Garoga, Hutagodang, dan Batu Horing.
Dengan langkah ini, UNTR ingin memastikan dua hal berjalan seimbang: keselamatan masyarakat sekitar tambang dan keberlangsungan operasional perusahaan dalam jangka panjang.

















Comment