Exposee.id — Banjir bandang yang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, hingga Aceh di akhir November kembali membuka peringatan keras soal rapuhnya ekosistem di hulu sungai. Meski curah hujan ekstrem menjadi pemicu langsung, para peneliti menilai kerusakan hutan adalah faktor yang memperbesar dampaknya.
Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Hatma Suryatmojo, menjelaskan bahwa hutan di wilayah hulu berfungsi seperti spons besar yang menahan air hujan. Vegetasi dan lapisan tanah yang sehat membuat air terserap sebelum mengalir ke sungai.
Penelitian di hutan tropis Kalimantan dan Sumatra menunjukkan, tutupan hutan mampu menahan 15–35% hujan di bagian tajuk. Sementara tanah yang tidak terganggu dapat menyerap hingga 55% air sebelum menjadi limpasan.
Dengan kondisi itu, hanya sekitar 10–20% air hujan yang langsung mengalir ke sungai. Sisanya tersimpan di tanah atau kembali ke atmosfer melalui proses evapotranspirasi yang dapat mencapai 25–40% dari total curah hujan.
Menurut Hatma, ketika hutan di bagian hulu rusak, seluruh fungsi penyangga hidrologis tersebut ikut hilang. Tanah kehilangan porositas, akar hilang, dan air deras tidak lagi terserap.
Akibatnya, mayoritas hujan berubah menjadi limpasan permukaan yang bergerak cepat menuju hilir. Kondisi ini memicu peningkatan debit sungai secara mendadak, salah satu penyebab utama banjir bandang.
Pada situasi tertentu, hutan yang tersisa pun tetap memiliki batas. Jika hujan ekstrem terjadi, risiko longsor meningkat dan membawa material batu, tanah, hingga batang pohon ke aliran sungai.
Material tersebut sering membentuk bendungan alami yang kemudian jebol karena volume air sangat besar. Ketika jebol, arus membawa energi destruktif yang jauh lebih besar dari banjir biasa.
Selain itu, sedimentasi juga menjadi masalah serius. Tanah yang tidak lagi ditahan akar pohon mudah tergerus dan masuk ke sungai, menyebabkan pendangkalan dan penyempitan alur air.
Pendangkalan ini membuat kapasitas sungai menurun dan memicu luapan lebih cepat saat terjadi hujan lebat. Hatma menyebut kondisi itu sebagai hilangnya “sabuk pengaman alami” bagi kawasan hilir.
Deforestasi di Sumatra juga menjadi latar belakang yang memperburuk bencana. BPS Aceh mencatat lebih dari 700 ribu hektar hutan hilang dalam periode 1990–2020, sementara Sumatra Utara hanya memiliki 29% tutupan hutan tersisa pada 2020.
Sumatra Barat memiliki proporsi hutan yang lebih besar yakni 54%, namun laju deforestasinya termasuk yang tertinggi. Walhi mencatat 320 ribu hektar hutan primer dan 740 ribu hektar tutupan pohon hilang sejak 2001.
Dalam satu tahun terakhir saja, Sumbar kehilangan 32 ribu hektar hutan. Sisa hutan yang berada di lereng curam Bukit Barisan kini menghadapi risiko longsor dan banjir bandang yang semakin sering terjadi.

















Comment