Meriah! Rebutan Gunungan Bawang Merah 8 Meter di Brebes Sabet Rekor ORI

  • Bagikan
IMG 20260913 WA0000

BREBES, Exposee.id— Kemeriahan puncak Bawang Merah Brebes Festival 2026 mewarnai kawasan Alun-Alun Brebes, Sabtu (12/9/2026). Ribuan warga tampak antusias berebut gunungan hasil bumi begitu pawai tiba di lokasi finish.

Aksi berebut hasil panen ini tidak hanya menghadirkan suasana penuh sukacita, tetapi juga menjadi simbol ungkapan rasa syukur masyarakat atas melimpahnya hasil pertanian dan kerja keras para petani bawang merah setempat.

Kemeriahan pesta rakyat tersebut diawali dengan pawai budaya dan hasil bumi yang dimulai pukul 07.00 WIB dari markas Kodim 0713 Brebes.

Sebanyak 30 kontingen ambil bagian dalam parade, terdiri atas pawai gunungan bawang merah dari sejumlah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), grup drumband, hingga atraksi Custom Carnival yang memikat perhatian warga di sepanjang rute pusat kota.

Setibanya di Alun-Alun Brebes, para peserta unjuk kebolehan di depan panggung kehormatan yang dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Brebes Tahroni, jajaran kepala OPD, dan para tamu undangan.

Sorotan Festival & Pencapaian Rekor

Penyelenggaraan Bawang Merah Brebes Festival yang telah memasuki tahun keempat ini secara resmi dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan.

Dalam sambutannya, Menko Pangan mengapresiasi ajang ini sebagai wadah strategis untuk memperkuat perhatian publik terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional, sekaligus mengenalkan keunggulan potensi lokal Brebes.

Tidak hanya meriah, festival tahun ini juga menorehkan sejarah baru. Lembaga Original Rekor Indonesia (ORI) menyerahkan penghargaan khusus untuk gunungan bawang merah setinggi delapan meter, yang secara resmi dinobatkan sebagai gunungan bawang merah tertinggi di Indonesia.

“Di balik satu siung bawang, ada tanah yang digarap, ada keringat petani, ada keluarga yang menunggu hasil panen, dan ada harapan agar kehidupan mereka semakin baik,” tegas Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma.

Paramitha menegaskan bahwa kemeriahan festival harus tetap berakar pada apresiasi mendalam kepada para petani. Ia berharap ajang ini menjadi titik balik dalam memperkuat posisi petani Brebes—mulai dari peningkatan kualitas produksi, pemanfaatan teknologi tepat guna, hingga kepastian harga di pasar.

Dorong Ekspor dan Kesejahteraan Petani

Selain tradisi rebutan gunungan, agenda penting lain yang dilaksanakan dalam festival ini adalah pelepasan ekspor bawang merah Brebes.

Langkah ini menjadi sinyal positif bahwa komoditas unggulan Brebes memiliki daya saing tinggi di pasar global.

Namun, Bupati menekankan bahwa perluasan pasar ekspor harus diimbangi dengan penguatan kelembagaan tani dan program hilirisasi.

Harapan senada disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Dian Alex Chandra.

Ia menyebut festival ini sebagai bentuk sedekah bumi dan pengingat akan perjuangan para petani yang terus menanam demi stabilitas pangan nasional, meski sering kali dihadapkan pada fluktuasi harga panen.

Penguatan Pasar: Perlunya kepastian harga agar petani tidak dirugikan saat panen raya.

Hilirisasi Produk: Mendorong penciptaan nilai tambah komoditas agar manfaatnya terasa langsung.

Keberpihakan Pemerintah: Memastikan kebijakan sektor pangan selaras dengan peningkatan kesejahteraan keluarga petani.

Rangkaian Bawang Merah Brebes Festival 2026 berlangsung selama tiga hari penuh, diisi dengan berbagai perlombaan kreatif dan panggung hiburan rakyat. Festival ini menjadi pengingat nyata bahwa bawang merah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan urat nadi penghidupan bagi ribuan keluarga di Kabupaten Brebes.

Pewarta: Sri Hernowati

banner 120x600
  • Bagikan

Comment