Hulu Sungai Utara, exposee.id– Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) tengah mematangkan fase akhir perencanaan teknis (Detail Engineering Design) untuk proyek pembangunan sodetan (bypass channel) skala besar. Proyek infrastruktur pengendali banjir dan irigasi ini dianggarkan sebesar Rp 10 miliar melalui APBD kabupaten, dan akan segera memasuki tahapan lelang pengadaan barang dan jasa.
Sodetan ini dirancang sebagai jalur pengalihan debit air (floodway) untuk mengurai beban luapan sungai pada kawasan rawan banjir, sekaligus berfungsi sebagai interkoneksi saluran irigasi sekunder bagi lahan pertanian produktif di hilir.
Spesifikasi Teknis dan Geografis Saluran
Kepala Dinas PUPR HSU, Amos Silitonga, melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA), Sahabudin Noor, memaparkan bahwa dengan alokasi anggaran Rp 10 miliar, volume pengerjaan akan mencakup penggalian saluran air buatan sepanjang 20 kilometer.
Secara teknis, sodetan ini memiliki dimensi penampang hidrolis yang cukup masif untuk memastikan kapasitas tampung (discharge capacity) yang optimal:
-
Lebar Saluran: 20 meter (lebar permukaan atas)
-
Kedalaman Saluran: 2,5 meter (diukur dari tinggi muka air rencana/elevasi tanggul)
-
Estimasi Kapasitas Tampung: Dirancang untuk mampu mengalirkan volume air yang signifikan guna menurunkan kurva puncak banjir (flood peak) di wilayah hulu.
Jalur sodetan ini akan membelah topografi landai di kawasan utara HSU. Titik awal (inlet) pembangunan dimulai dari Desa Hapalah, yang merupakan wilayah perbatasan langsung antara Kabupaten HSU dengan Kabupaten Tabalong. Aliran air kemudian diarahkan menuju ke dataran rendah di bagian hilir (outlet), tepatnya ke kawasan Sambujur, Desa Tampakang, Kecamatan Paminggir.
Secara spasial, trase atau jalur pemotongan aliran sungai ini akan melintasi batas administrasi tiga desa strategis, yaitu:
-
Desa Hapalah
-
Desa Tuhuran
-
Desa Kayakah

Redesain Tata Air dan Dampak Sosio-Ekonomi
Proyek sodetan ini dinilai krusial mengingat karakteristik wilayah Hulu Sungai Utara yang didominasi oleh ekosistem rawa lebak dan aliran sungai lintas kabupaten yang kerap mengalami sedimentasi. Pembuatan saluran sepanjang 20 km ini diproyeksikan dapat mempercepat waktu konsentrasi air (time of concentration) menuju badan air utama di hilir, sehingga durasi andangan (genangan air) di pemukiman warga dapat dipangkas secara signifikan.
Selain fungsi mitigasi bencana, proyek ini membawa misi transformasi sektor agraris. Kehadiran sodetan dengan suplai air yang stabil sepanjang tahun akan memicu luasan lahan potensial baru. Sistem tata air (water management) yang lebih terukur ini diyakini mampu mengubah status lahan rawa tidur menjadi lahan pertanian produktif, serta meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari IP 100 menjadi IP 200 (dua kali panen dalam setahun).
Dukungan Komunitas dan Proses Lelang
Rencana strategis ini mendapat respons positif dari pemangku kepentingan di tingkat tapak. Aparat desa bersama perwakilan masyarakat dari tiga desa terdampak aktif terlibat dalam forum konsultasi publik guna memberikan masukan terkait penentuan koordinat alignment (jalur as) saluran. Keterlibatan ini penting demi meminimalkan konflik sosial dan mengoptimalkan dampak pemanfaatan air untuk irigasi tersier ke sawah-sawah warga.
Saat ini, Bidang SDA Dinas PUPR HSU sedang melakukan finalisasi dokumen tender. Setelah seluruh dokumen kesiapan teknis (ready criteria) terpenuhi, proyek senilai Rp 10 miliar ini akan segera ditayangkan di LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik) Kabupaten HSU untuk memulai proses lelang terbuka, dengan target pengerjaan fisik konstruksi dapat dimulai pada tahun anggaran berjalan.











Comment