RI Masih Impor 364 Ribu Ton Beras, Ini Penjelasan Kementan Soal Stok Nasional

  • Bagikan
pexels media 4110251

Exposee.id — Kementerian Pertanian menegaskan bahwa impor beras yang masuk sepanjang 2025 bukan beras medium—segmen yang menjadi konsumsi utama masyarakat. Pemerintah memastikan kebutuhan beras medium nasional masih aman dan bahkan berada pada posisi surplus.

Pernyataan ini merespons data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat impor beras pada Oktober 2025 mencapai 40,7 ribu ton, sementara total impor Januari–Oktober mencapai 364,3 ribu ton dengan nilai US$178,5 juta atau sekitar Rp2,97 triliun.

Menurut Kementan, seluruh impor tersebut masuk kategori beras khusus dan industri, bukan beras medium yang biasa dikonsumsi rumah tangga.

Stok Beras Medium Surplus, Tidak Ada Impor untuk Konsumsi Massal

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch Arief Cahyono, menegaskan bahwa produksi beras medium dalam negeri pada 2025 diproyeksikan mencapai 34,79 juta ton, sehingga kebutuhan nasional aman.

“Tidak ada impor beras medium. Semua kebutuhan beras medium dipenuhi petani dalam negeri. Impor tahun ini murni untuk kebutuhan khusus dan industri,” ujar Arief.

Adapun jenis beras impor meliputi:

Beras pecah 100% (menir) untuk industri (HS 1006.40.90)

Beras kebutuhan khusus seperti untuk penderita diabetes

Beras premium untuk restoran asing dan hotel

Varian khusus seperti basmati, jasmine, dan japonica yang tidak diproduksi di Indonesia

Kementan menegaskan bahwa masuknya beras khusus ini tidak memengaruhi harga beras medium dan tidak menekan harga gabah petani, mengingat segmennya jauh berbeda.

Data BPS: Deflasi Beras Terjadi di 28 Provinsi

BPS mencatat beras mengalami deflasi 0,59% (month-to-month) pada November 2025. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartin, menyebut deflasi dipengaruhi oleh:

Meningkatnya pasokan selama musim panen

Penyesuaian harga antar kualitas

Penyaluran beras SPHP ke berbagai pasar

Meski begitu, BPS mengingatkan potensi kenaikan harga beras pada Desember, yang hasilnya baru akan terlihat pada rilis inflasi Januari 2026.

Secara wilayah:

28 provinsi mengalami deflasi beras

8 provinsi mengalami inflasi

2 provinsi stabil

Industri Jalan, Petani Tetap Diprioritaskan

Kementan kembali menekankan bahwa kebijakan impor berbasis neraca komoditas dilakukan secara selektif.

“Segmen industri harus tetap berjalan, tetapi stabilitas pangan dan perlindungan petani selalu menjadi prioritas,” kata Arief.

Pemerintah memastikan pasokan beras medium terkendali, sementara kebutuhan industri dipenuhi tanpa mengganggu pasar domestik.

banner 120x600
  • Bagikan

Comment