Terseret Perkara Dugaan Korupsi Chromebook Nadiem Makarim, Begini Klarifikasi Pihak Google

  • Bagikan
IMG 20260110 162811 2

Exposee.id — Google akhirnya angkat bicara menyusul namanya yang ikut terseret dalam perkara dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) periode 2019–2022.

Melalui pernyataan resmi, Google menegaskan tidak pernah menjual perangkat Chromebook secara langsung kepada pemerintah Indonesia, serta tidak memiliki kewenangan dalam penentuan harga perangkat tersebut.

Google menjelaskan perannya dalam ekosistem Chromebook terbatas pada pengembangan sistem operasi Chrome serta penyediaan lisensi dan perangkat pengelolaan kepada mitra. Pernyataan itu dipublikasikan melalui blog resmi Google dan disampaikan oleh tim komunikasi eksternal perusahaan kepada media di Indonesia.

“Proses pengadaan perangkat Chrome dikelola sepenuhnya oleh produsen peralatan asli atau original equipment manufacturers (OEM) yang independen serta mitra lokal. Ekosistem ini memastikan Kementerian Pendidikan memiliki kendali penuh dan transparansi atas pengadaan perangkat keras secara kompetitif dari pemasok lokal,” tulis Google dalam pernyataannya, Sabtu (10/1/2026).

Google menambahkan, OEM dan mitra lokal bertanggung jawab penuh atas pengadaan perangkat keras, termasuk pelaksanaan proses yang kompetitif. Sementara itu, Google hanya menyediakan lisensi Chrome Education Upgrade (CEU), yang sebelumnya dikenal sebagai Chrome Device Management.

CEU merupakan sistem pengelolaan dan infrastruktur keamanan yang digunakan secara global untuk melindungi aset publik. Sistem ini memungkinkan kementerian maupun sekolah mengelola perangkat melalui satu platform terpadu, mulai dari penyaringan konten hingga pengamanan perangkat jika hilang.

Menurut Google, sistem tersebut dirancang untuk memastikan investasi pemerintah tetap aman serta memberikan manfaat jangka panjang bagi dunia pendidikan.

Chromebook Diklaim Bisa Digunakan Tanpa Internet

Dalam pernyataan yang sama, Google menegaskan Chromebook dirancang sesuai dengan kondisi ruang kelas, termasuk di wilayah terpencil. Meski optimal digunakan dengan dukungan komputasi awan, perangkat ini tetap dapat berfungsi secara luring.

Dengan demikian, siswa tetap bisa membuat dokumen, mengelola berkas, serta menggunakan sejumlah aplikasi tertentu tanpa koneksi internet, sehingga kegiatan belajar tidak terhenti.

Tegaskan Komitmen Jangka Panjang di Indonesia

Google juga menekankan komitmennya terhadap Indonesia telah berlangsung jauh sebelum masa kepemimpinan Menteri Pendidikan saat itu, Nadiem Makarim, maupun sebelum adanya keputusan pembelian perangkat.

“Komitmen kami terhadap Indonesia telah berjalan selama beberapa dekade dan dimulai jauh sebelum kepemimpinan saat ini atau keputusan pembelian tertentu,” tulis Google.

Sebagai contoh, Google menyebut Program Bangkit serta hibah pelatihan guru senilai Rp14,1 miliar dari Google.org yang diumumkan jauh sebelum proses tender perangkat. Program Bangkit yang dimulai pada April 2019 tercatat telah melatih lebih dari 25.000 mahasiswa Indonesia di bidang teknologi dan menghubungkan peserta dengan peluang karier di perusahaan rintisan lokal.

Selain itu, melalui kemitraan dengan Kemendikbudristek dan dinas pendidikan daerah, Google mengklaim telah melatih lebih dari 290.000 guru di berbagai provinsi terkait kecerdasan buatan generatif melalui Gemini Academy. Dari jumlah tersebut, lebih dari 58.000 guru telah lulus sebagai Edukator Gemini Bersertifikat.

Google juga menyebut telah terlibat hampir 15 tahun dalam peningkatan keterampilan digital masyarakat Indonesia, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bantah Ada Imbal Balik

Masih dalam pernyataan resminya, Google membantah adanya imbalan atau keuntungan yang diberikan kepada pejabat Kemendikbudristek terkait keputusan penggunaan produk Google.

“Kami tidak pernah menawarkan, menjanjikan, ataupun memberikan imbalan kepada pejabat pemerintah. Kami berkomitmen mendukung transformasi digital Indonesia dengan menjunjung tinggi transparansi dan integritas,” tegas Google.

Terkait investasi Google di Gojek—perusahaan yang didirikan Nadiem Makarim—Google menjelaskan investasi tersebut dilakukan bersama investor global dan institusional lainnya pada periode 2017–2021. Sebagian besar investasi itu dilakukan sebelum Nadiem menjabat sebagai menteri.

Google menegaskan investasi tersebut tidak berkaitan dengan kebijakan pendidikan di Indonesia maupun kerja sama dengan Kemendikbudristek terkait produk dan layanan Google.

Sementara itu, proses hukum dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan masih berlanjut di pengadilan. Jaksa penuntut umum menyatakan perkara telah memasuki pokok persidangan dan meminta majelis hakim menolak nota keberatan atau eksepsi yang diajukan pihak terdakwa.

Sebelumnya, Nadiem Makarim menyatakan keberatan atas dakwaan jaksa yang menyebut dirinya menerima keuntungan pribadi hingga Rp809 miliar dari pengadaan laptop Chromebook, dan menilai perkara tersebut sebagai bentuk kriminalisasi atas kebijakan yang diambil selama masa jabatannya.

banner 120x600
  • Bagikan

Comment