Exposee.id – Kenaikan harga kebutuhan pokok kian terasa di kehidupan sehari-hari keluarga perkotaan. Dari dapur hingga pasar, biaya hidup merangkak naik, sementara penghasilan banyak rumah tangga tidak mengalami peningkatan signifikan. Akibatnya, belanja bulanan membengkak dan ruang bernapas keuangan semakin sempit.
Dalam situasi ini, satu kebiasaan mulai jamak terjadi: tabungan dipakai untuk menutup kebutuhan harian. Bukan untuk keadaan darurat, melainkan untuk menambal selisih pengeluaran yang tak lagi seimbang dengan pendapatan.
Tabungan yang seharusnya menjadi penyangga masa depan perlahan berubah fungsi. Dana darurat, simpanan pendidikan, bahkan rencana jangka panjang, terkuras demi bertahan dari tekanan biaya hidup saat ini.
Lonjakan Harga Pangan Jadi Pemicu Utama
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh harga pangan, seperti cabai rawit, bawang merah, daging ayam, telur, hingga ikan segar.
Ketika inflasi bersumber dari bahan makanan, pilihan penghematan menjadi terbatas. Pengeluaran hiburan masih bisa dipangkas, tetapi kebutuhan makan sulit dikurangi. Kondisi inilah yang mendorong banyak keluarga mengambil jalan cepat dengan mengandalkan tabungan.
Tabungan Terkuras Tanpa Disadari
Menghabiskan tabungan jarang terjadi secara drastis. Biasanya diawali kebiasaan kecil yang terasa wajar. Tabungan mulai dipakai untuk belanja rutin, saldo bulanan sering defisit lalu ditutup dari rekening simpanan, hingga tidak ada lagi dana tersisa saat bulan baru dimulai.
Jika pola ini terus berlangsung, tabungan tak lagi berfungsi sebagai pelindung risiko, melainkan sekadar perpanjangan gaji yang terus menipis.
Menabung Semakin Berat di Tengah Tekanan Konsumsi
Data Bank Indonesia menunjukkan sekitar 74 persen pendapatan masyarakat terserap untuk konsumsi, sementara porsi menabung hanya berkisar 14 persen. Ruang menabung memang sudah sempit, terutama bagi kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.
Tren ini diperkuat oleh Indeks Menabung Konsumen dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang terus melemah. Sinyalnya jelas: semakin banyak orang ingin menabung, tetapi tidak memiliki cukup ruang untuk melakukannya.
Langkah Bertahan agar Dompet Tidak Jebol
Meski tekanan harga sulit dihindari, ada sejumlah langkah realistis yang dapat dilakukan untuk mencegah tabungan terkuras habis:
Menyadari perbedaan antara kebutuhan dan kenyamanan. Belanja kecil untuk mengurangi stres sering kali terasa sepele, tetapi jika berulang justru menjadi kebocoran utama.
Menyisihkan tabungan di awal menerima penghasilan, meski nominalnya kecil. Menunggu sisa akhir bulan hampir selalu berakhir tanpa hasil.
Menetapkan aturan tegas bahwa tabungan hanya untuk kondisi darurat nyata, bukan untuk menutup pengeluaran yang tidak terkendali.
Mencatat pengeluaran pangan secara rinci agar lonjakan harga tidak luput dari perhatian.
Mencari tambahan penghasilan berskala kecil, seperti pekerjaan lepas, jasa online, atau usaha rumahan untuk menambah arus kas.
Menjaga Tabungan Adalah Menjaga Rasa Aman
Fenomena “makan tabungan” mencerminkan persoalan yang lebih besar dari sekadar manajemen uang. Ini soal daya beli yang tertekan ketika harga melaju lebih cepat daripada pendapatan.
Di tengah kondisi tersebut, mempertahankan tabungan bukan tentang hidup mewah, melainkan soal bertahan dalam jangka panjang. Karena saat tabungan habis, yang hilang bukan hanya angka di rekening, tetapi juga rasa aman keluarga menghadapi masa depan.

















Comment